Jogja Kembali Benar Adanya

                   Cr: Ig @danigaesae

Kali ini di November 2021 setelah berminggu-minggu tidak ada tulisan disini. Tulisan pertama di waktu-waktu yang cukup bisa diartikan bahwa saya malas. Seorang yang dikatakan ambisius kini lebih sering menyerah dengan keadaan yang sulit. Menjadi manusia biasa saja. Manusia rata-rata pada umumnya. Tidak terlalu kencang berlalari namun tidak juga berhenti. Kacau rasanya saat diawal menjadi seperti ini. Tapi sayangnya manusia ini memang lebih memilih untuk menyayangi dirinya dari apapun itu. 

Tidak ada hasrat untuk menulis namun harus dipaksakan dengan suka rela. Ditemani aliran lagu terbaru dari seorang teman magang, lofie music. Tidak buruk. Mendapati postingan Linka Angelia yang semakin cantik dengan rambutnya yang kembali memendek. Ah cantik dan begitu apa adanya. Mengingat juga bahwa tulisan ini dibuat di malam minggu yang tidak diingatnya sebagai malam minggu. Di waktu manusia ini pergi ke Klaten. Sial teringat masa ditahun 2018. Kenangan dan perjuangan yang melelahkan dan menyebabkan sakit mental (bisa saja). Mengingat jalan, plang, tempat makan, dan tempat lain yang sangat melekat di kepala. Pada masa itu hanya mengandalkan aplikasi peta ajaib namun masih bingung dalam menggunakannya. Memang benar mungkin bahwa wanita buruk dalam navigasi. Seorang navigator yang buruk untuk perjalanan. Namun untuk navigasi dekat tidak begitu. Dalam hal sederhana, seperti meletakkan benda-benda kecil seperti kunci maka ia akan lebih cepat tanggap untuk mengingat. Sebelum ada riset yang dibaca oleh manusia ini maka sementara anggapan itu hanyalah cuitan yang ia temukan belaka. Karena saya adalah seorang pelupa sekalipun hal kecil seperti kunci itu tadi. Kembali, keterangan jalan Solo-Jogja kala itu sangat mencengangkan. Bagaimana tidak, seorang pengembera nan jauh yang baru saja beranjak dari salah satu kota di Jogja ternyata secara bodoh dan sukarela kembali ke Jogja. Bentuk ketidakpercayaan manusia terhadap kecanggihan teknologi. Si manusia justru mengikuti arah sein motor berplat yang sama dengannya. Sungguh cerdas. Sampai disebuah flyover, manusia ini harusnya belok ke sisi kiri tapi justru berbalok ke kanan. Dipikirnya semua orang pasti bertujuan sama. Ke selatan. Menyusuri jalan bertulisan Jogja, apakah ini dejavu?. Tentu bukan. Ini adalah pengulangan yang disadari berangkat dari kebodohan. Kembali ke Jogja. Tempat ini secara tidak langsung menarik ku kembali. Tapi tujuan untuk segera sampai rumah dan bercerita tentang perjuangan harus segera dilaksanakan. Tidak hanya untuk sekedar beristirahat, lebih dari itu. Ketika orang dekat mendengarkan apa yang kita lalui, ketika kita bercerita adalah rasa lega yang teramat. Alasan itu yang membuat ku harus kembali ke Solo malam itu juga. Teringat kala itu sampai ditempat yang sangat hangat karena ada ibu ku disana. Menyambut kedatangan ku bersama tetangga ku. Menanyakan kenapa sampai larut. Seperti tidak sabar menunggu ku memarkirkan motor ke dalam rumah. Mereka menayai ku disepanjang jalan gang kala itu. Akhirnya cerita perjuangan ku sampai ditelinga ibu. Harapan yang dibesarkan semoga tercapai apa yang aku citakan. Menggema jelas. Terimakasih atas doa itu. Semoga bisa ku wujudkan dengan cara yang berbeda. Karena lagi lagi aku gagal dimedan yang sama. 

Komentar