Upin Ipin Kok Ga Pernah Kena Masalah Ekonomi, Pendapatan Keluarganya Dari Mana?
Sebuah penggambaran kehidupan anak-anak di sebuah kampung yang bernama Kampung Durian dengan menghadirkan tokoh pendukung seperti teman-teman Upin Ipin yang sama-sama masih sekolah di sebuah taman kanak-kanak, Tadika Mesra membuat ibu saya yang seorang guru PAUD justru tersinpirasi dari tayangan yang satu ini.
Kehidupan sehari-hari di serial ini ditampilkan sama layaknya kehidupan manusia pada umumnya di sebuah perkampungan. Kebanyakan serial ini lebih banyak menampilkan aktivitas bermain, belajar, dan sekolah Upin Ipin dan kawannya. Alasan yang cukup klasik ketika saya memilih serial ini menjadi tontonan favorit teruntuk saya yang saat ini sudah duduk di bangku kuliah. Asik. Ya alasan itu yang membuat saya masih suka menyempatkan waktu menonton TV dan memilih channel MNC TV untuk melihat serial ini tayang di jam maghrib. Terkadang juga sering rebutan sama simbah yang hobby nonton sinetron. Bagi saya serial ini lebih menarik dari sinetron Indonesia. Ya memang sinet dan kartun sangat berbeda sekali. Jika sinet adalah penggambaran kehidupan yang diperankan manusia, dan kartun adalah tayangan animasi. Tapi tetap bagi saya serial kartun semacam ini lebih menarik. Tidak memusingkan, serial Upin Ipin bersifat menghibur penonton. Ya jika dilihat dari latar belakang memang serial ini merupakan serial komedi. Dari pada ikut marah-marah karena kesal dengan tokoh antogonis disebuah sinet lebih baik mencari hiburan lain dengan menonton Upin Ipin. Bagi saya, serial ini juga syarat akan banyaknya pesan yang bisa diambil. Bukan hanya serial yang membuat imajinasi bagi kalangan anak-anak, akan tetapi latar kehidupan yang digambarkan pada serial ini acap kali membuat orang dewasa pun ikut memetik moral valuenya juga. Terlepas dari itu, pada tulisan ini beberapa tokoh pada serial Upin Ipin membuat saya tertarik lagi dan lagi untuk membahasnya.
Selain Upin Ipin, ada tokoh lain yang bernama Mail Bin Mail. Anak kecil yang sudah pandai mencari peluang rejeki. Gemar Berjualan disetiap kesempatan. Saya menyukai tokoh yang satu ini. Meskipun terkadang Mail terlalu perhitungan karena melihat semua hal dari sudut pandang penjual yang apa-apa serba dijual. Tapi tidak ada salahnya. Memang jiwa pedagang harus begitu. Justru tokoh seperti Mail inilah yang mampu membuat saya tidak bertanya-tanya tentang kehidupannya jika ini membahas tentang perekonomian. Ya sejak dulu, Mail digambarkan sebagai tokoh penjual ayam goreng di pasar atau di event tertentu. Terkadang pula ia berjualan saat malam hari. Sehingga saat waktu sekolah ia selaku mengantuk. Semangat mencari uang yang ada pada diri Mail patut untuk diakui. Dalam hidup selalu butuh uang untuk memenuhi kebutuhan. Si Mail ini mencoba membantu mendapatkan uang untuk kebutuhan keluarganya. Berbeda dengan Upin Ipin yang sudah ditinggal ayah ibunya. Ia hidup dengan opah dan kakak perempuan yang masih SMA. Lalu darimana mereka mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan?. Karena saya sering menonton serial ini, maka saya tahu akan tayangan kehidupan si Upin Ipin ini. Mulai dari makanannya, sampai pada sekolah. Upin Ipin ini tidak pernah kesulitan membayar SPP. Tidak pernah kesulitan makan, meskipun terkadang tidak ada masakan di meja makan. Lalu sebenarnya pendapatan yang bisa menghidupi Upin Ipin beserta opah dan kakaknya dari mana jika tidak ada satupun dari mereka yang bekerja?. Mungkin saja dari warisan yang tidak ada habisnya. Di halaman belakang rumah mereka ditanam buah dan sayur mungkin itu sumber pendapatan mereka. Atau sekolah di Malaysia merupakan tanggung jawab Pemerintah dengan ketentuan tertentu pastinya. Atau ada sisi lain yang belum saya ketahui dari kehidupan Upin Ipin. Menarik untuk ditelisik. Namun saya juga menyadari bahwa tayangan ini memang hanyalah kartun yang bersifat fiktif. Bukan kehidupan nyata dari seseorang. Tentu tidak harus sama dengan realita. Kembali lagi tayangan ini hanya hiburan. Setidaknya meskipun penasaran tapi tetap keseruan dan kelucuan Upin Ipin tidak pernah membosankan bagi saya.
Komentar
Posting Komentar