Kucing Abu, Coklat, dan Kucing Putih
Kucing abu, putih, dan coklat yang ditinggal pergi. Seekor kucing betina tergelatak tak berdaya di lumbung padi pada suatu pagi. Nyaring suara anak kecil berlarian kesana kemari mencari tuan si kucing. Si tuan tidak menggubris. Lalu terdengar kata itu. Tersontak si tuan bangkit dari duduknya. Berlari menghampiri arah suara anak kecil itu. Di dapur, semua keluarga berkumpul. Berita kehilangan tersiar lagi. Si putih mati pagi ini. Tubuhnya tergeletak sudah tidak bernafas di lumbung padi. Tidak tau apa penyebabnya. Semua terkejut, semua menangis. Kenapa? Keracunan?. Pantas saja tak pulang. Tebak wanita yang sudah nampak sedikit tua. Sambil menangis, wanita yang lebih muda mengerahkan untuk wanita lainnya menengok. Memastikan apa benar berita itu. Wanita yang paling muda mengambil motor bebeknya. Menstrater. Pergi ke tempat berita itu bermuara. Tidak nampak ada kucing tergeletak. Sedikit memupuk harapan bukan kucing si tuan yang mati. Banyak kucing putih di kampung ini. Semoga bukan, semoga lain, semoga tidak lagi kali ini. Si anak kecil mengayunkan tangannya dengan disusul anak kecil lainnya. Memberi sinyal "Disini kucing mu mati". Tidak. Si tuan masih tidak percaya. Berusaha tidak percaya meskipun harapannya hampir pupus. Bukan. Bukan lagi hampir. Memang sudah pupus. Si kucing putih dengan kalung berwarna merah muda nampak sudah terkapar tanpa gerak nafas. Tanpa aungan suara. Dia tidak bergerak. Tidak pula bernafas. Apalagi mengeong. Ya dia sudah mati sejak tadi. Kata pemilik lumbung padi. "Sejak kapan?" tanya si tuan meyakinkan. "Tidak tau, pokoknya sudah mati ketika aku kesini." ucapnya.
Pecah tangis wanita separuh baya yang terus memanggil nama si kucing putih. Ia juga berusaha melawan kenyataan. Barangkali hanya pingsan. Barangkali masih bisa tertolong. Badannya masih lemas. Mungkin baru saja ia terkena musibah ini. "Bawa pulang, bawa ke dokter." suruh si wanita paruh baya. Si wanita muda tidak berfikir sama. Tidak. Ini sudah terlambat. Lalu si wanita paruh baya dan wanita muda pulang sambil terus menangis. Yang satu membopong kucing putih. Yang satu mengendarai motor bebeknya. Si kucing putih sampai di rumah. Semua semakin menjadi tangisnya. Tidaaaaaaaaaaak.
Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Semua semakin waspada. Tidak mau terulang kejadian serupa. Semua harus bisa mengantisipasi. Semua harus bisa menjaga yang tersisa. Kandang, kurung, jangan biarkan mereka beranjak dari kandang itu. Kucing abu, kucing putih dua yang tersisa, merka harus menikmati aturan itu. Demi kebaikan toh juga dikasih makan. Tidak dengan kucing coklat yang dipandang lebih kuat. Ia dibiarkan tidak menikmati penjara itu. Tidak kebagian makanan tapi ia kebagian kebebasan.
Komentar
Posting Komentar