Surat Tentang Kegagalan dan Kembalinya Dalam Berjuang
Tulisan pada kertas beramplop coklat yang sudah lusuh karena dibawa kesana kemari oleh tukang pos yang kehujanan. Aku pikir pak pos tidak datang hari ini mengantarkan surat ku. Surat yang aku tunggu-tunggu sejak tiga hari belakangan ini. Surat dari sahabat pena ku sejak enam tahun yang lalu. Yang mana wajahnya pun tidak pernah aku bayangkan seperti apa. Padahal kami bisa bertukar foto saat mengirim surat itu. Tapi tidak. Kami lebih memilih menjadi sosok yang saling menaruh rasa penasaran. Akan seperti apa dan bagaimana sosok manusia yang selalu bercerita diatas kertas itu. Rasanya pernah sesekali dua kali atau bahkan berkali-kali aku bosan dengan cara berkomunikasi seperti ini. Mengapa kita tidak memanfaatkan teknologi?. Tanya ku pada suatu hari didalam surat itu. Lama ia tidak membalas. Aku mengira dia sudah kesal dengan ku karena pertanyaan itu. Selain karena mengirim surat adalah cara untuk tetap menjaga keaslian berfikir, merawat jemari untuk menggoreskan tinta, juga untuk menyisikan waktu untuk sekedar melamun berfikir akan dibalas apa surat itu. Aku kira ini tidak akan bertahan lama, cara berkomunikasi dengan cara yang lawas ini. Aku kira dulu hanya akan menjadi pengobat rindu massa-massa berjaya media cetak seperti koran, majalah, surat kabar ketika mereka masih menjadi sumber utama informasi di Indonesia. Kau ingat kapan itu?. Sudah lama. Aku sadar bahwa setiap surat yang kau kirimkan adalah sebuah penantian yang aku lakukan selama ini. Menunggu balasan demi balasan surat mu. Rasanya terkadang aku tidak sabar untuk segera mendapat balasan. Dan akupun berharap kau pun juga begitu.
*Bersambung
Komentar
Posting Komentar