Bagaimana Komunikasi Massa Dalam Memberikan Informasi Kepada Khalayak

                    picture by Pinterest 

Ketika membaca buku karya Jalaludin Rakhmat yang berjudul Psikologi Komunikasi yang diterbitkan pada tahun 2015. Ada hal yang menarik pada halaman 5- 6, pada sub bab 1.1 ruang lingkup Psikologi Komunikasi. Terdapat pokok bahasan mengenai psikologi yang banyak mempelajari komunikasi di antara binatang, binatang dengan manusia, atau manusia dengan mesin. Adanya penguraian mengenai komunikasi antara manusia yang diuraikan dalam bab Sistem Komunikasi Interpersonal. Pada penjelasan bab tersebut, sampailah pada pembahasan komunikasi massa. Yang mana pembahasan tersebut akan ada korelasinya dengan apa yang akan ditulis selanjutnya. Hal menarik dalam buku tersebut terletak pada kalimat berikut : 

“Sesuai dengan perkembangan teknologi komunikasi, kita akan membicarakan komunikasi massa. Dari segi psikologi, apa yang membedakan komunikasi massa dari komunikasi interpersonal? Bagaimana efek komunikasi massa terhadap perubahan kognitif, afektif, dan behavioral khalayaknya? Betulkah komunikasi massa cukup perkasa untuk membuat khalayak sekehendaknya? Apakah komunikasi massa itu “nabi” yang mendatangkan rakhmat atau “iblis” yang menyebarkan laknat?.”

Mengenai komunikasi interpersonal, efek terhadap perubahan kognitif, afektif dan seterusnya, tidak akan dibahas pada tulisan ini. Namun yang ingin sedikit diulas terletak pada kalimat penutup. Pada kalimat penutup tersebut, sangat menarik untuk dibahas. Jika diartikan lebih detail lagi, komunikasi  massa mempunyai pengertian, komunikasi yang didalamnya terjadi proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan suatu pesan kepada khalayak banyak (publik). Organisasi-organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat tertentu, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi salah satu bagian institusi yang kuat di masyarakat. Dalam komunikasi massa, media massa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak atau publik. (Wikipedia)

Komunikasi massa selalu berhubungan dengan media massa. Yang mana media massa tersebut merupakan wadah dalam menyampaikan suatu informasi kepada masyarakat secara lebih luas. Media terkadang dijadikan acuan seseorang dalam mendapatkan informasi. Informasi tersebut berisi peristiwa atau kejadian yang terjadi saat ini. Berita terkadang lebih menarik jika dibuat berbeda dari  hal yang biasanya atau sewajarnya, sesuatu yang lumrah  terjadi. Ada istilah bahwa, seorang manusia yang digigit anjing adalah hal biasa. Berbeda halnya apabila manusia menggigit seekor anjing. Inilah yang dinamakan berita yang dapat menggugah rasa penasaran dari khalayak itu sendiri. 

“Betulkah komunikasi massa cukup perkasa untuk membuat khalayak sekehendaknya? Apakah komunikasi massa itu “nabi” yang mendatangkan rahmat atau “iblis” yang menyebarkan laknat?.”

Komunikasi massa bisa menjadi pengendali dalam suatu masyarakat. Hal-hal yang disampaikan oleh media massa itu sendiri bisa menjadikan masyarakat mengikutinya atau mempercayai dengan mudahnya. Banyaknya berita hoax (bohong) yang disampaikan media massa, atau penikmat media massa yang tanpa dipastikan kebenarannya suatu berita yang ia terima, menjadi pemicu semakin banyaknya berita-berita hoax  yang beredar. Pemahaman yang kurang, kesalahan dalam menafsirkan informasi menjadi penyebab adanya berita palsu. Beberapa  orang terkadang dalam memahami suatu informasi mempunyai interpretasi berbeda dengan yang dikehendaki penyampai informasi. Masyarakat awam tentunya sulit sekali untuk membedakan mana berita yang benar dan mana berita hoax. Kesulitan dalam mendapatkan informasi yang akurat tersebut dapat menyebabkan masyarakat yang terbentuk oleh sebuah misinterpretasi informasi bisa saja menjadi penyebar hoax. Namun terkadang suatu berita yang didalamnya memuat suatu informasi, juga terdapat sebuah kesalahan. Kesalahan dalam memberikan fakta dalam suatu peristiwa yang terjadi bisa menyebabkan kerancuan dalam masyarakat. Media penyedia berita, berlomba-lomba dalam kecepatan penyampaian berita. Suatu portal online ingin menyajikan suatu berita terupdate. Sehingga cara menjadikannya portal berita yang banyak diakses oleh para penggunanya atau para khalayak media massa adalah dengan cara mengejar informasi teranyar dengan cepat. Sebelum benar-benar dipastikan segala faktanya dengan menyeluruh, informasi tersebut masih menjadi informasi yang belum pasti. Berita hoax seperti mengklaim suatu kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan kejadian yang sebenarnya terjadi mudah sekali tersebar karena adanya media massa. (Wikipedia, n.d.) Bahkan situs-situs tertentu sengaja membuat berita hoax untuk menimbulkan kerusuhan, kegusaran dalam suatu masyarakat. Informasi dalam suatu media yang tidak akurat atau bahkan informasi hoax dengan judul provokatif yang bisa menggiring pembaca dan penerima informasi (komunikan) kepada opini yang cenderung negatif. Opini negatif, fitnah, membuat kerusuhan, penyebar kebencian, menyerang pihak tertentu, membuat takut atau panik berlebihan, bahkan membuat seseorang merasa terancam keberadaanya dapat merugikan pihak itu sendiri baik secara reputasi maupun secara materi. ( Penyalahgunaan Informasi/Berita Hoax Di Media Sosial: Abner, Khaidir, Mohammad Ridho Abdillah, Rizky Bimantoro, Weiby Reinaldy) Hal inilah yang dimaksudkan media massa mampu menjadi iblis yang menyebarkan laknat.

Pada dasarnya tidak semua media massa memberikan hal yang buruk. Kita tidak bisa menggeneralisir  dengan hanya melihat satu sisi saja. Disisi lain, masih banyak media massa yang menyampaikan berita dengan memperhatikan keakuratannya. Sehingga media tersebut bisa menjadi acuan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar-benar terpercaya. Kita sebagai masyarakat juga harus pintar-pintar dalam memfilter suatu informasi. Tidak mudah menyebarluaskan tanpa cross cek terlebih dahulu kebenarannya. Bagaimana pemanfaatan media massa ini bergantung pada diri kita. Apabila kita dapat menjadikannya suatu media yang bermanfaat maka akan mendatangkan manfaat pula untuk kita. Dengan begitu, media massa dapat mendatangkan rahmat.

Oleh Adinda Bunga Kusuma Wardani

Komentar