Sarjana Untuk Menjadi Apa?
picture by Pinterest
Keluarga Hena
"Andana dan Pikiran Jauhnya"
Bu kelak jika aku sudah jadi sarjana, lalu apalagi mimpi mu yang perlu aku wujudkan?. Siapa nanti yang mengurus ladang, menanam padi dan menuainya jika aku jadi sarjana dan merantau ke kota?. Tiba-tiba mimpi ku menjadi tinggi. Angan mu jauh melayang menembus awan biru disiang hari yang cerah. Pada siapa akan aku ajak menggapai angan itu Bu?. Dulu mimpi mu, aku harus menjadi orang sukses. Tanpa aku tahu, sukses yang semacam apa yang harus aku wujudkan untuk mu. Ya aku tau Bu setiap orangtua pasti ingin anaknya sukses. Berhasil mengangkat derajat orangtua. Yang menurut ku juga derajat semua manusia sama Bu. Tidak perlu diangkat-angkat. Tidak ada yang berada diatas tidak pula yang berada dibawah. Jika ini menyoal kekayaan. Ya tentu semua lebih terlihat antara si kaya dan si melarat. Mulut ku kadang begitu laknat menyebut istilah-istilah yang menggores hati tapi memang seperti itu kenyataannya. Ingin aku angkat seperti apa derajat mu ibu?. Bahkan sejak dulu aku sudah meletakkan derajat mu diatas. Ku tinggikan derajat mu atas hidup ku. Engkau yang melahirkan ku, membesarkan dan mendidik ku dengan cara mu. Seperti diketinggian apalagi derajat mu ini harus ku bawa. Bu jika nanti aku bergelar namun pekerjaan sulit ku dapatkan lapangan pekerjaan tidak segera ku sediakan. Apakah ibu akan tetap menjadi orang yang memeluk ku dengan senyuman dan suguhan sayur bayam hangat menyambut kegagalan demi kegagalan yang ku bawa diambang pintu sore itu?. Akan kah kau tetap mau memarahi ku jika nanti aku tetap keras kepala ingin mewujudkan sukses dengan cara ku?. Aku bingung Bu. Masa depan seperti apa yang sedang ku gambar saat ini sementara pikiran ku jauh melayang tentang perjuangan mu. Kau yang dulu teramat cantik sekarang tentu masih saja cantik meskipun sudah tidak berbadan subur seperti dulu. Itu karena tubuh mu terbentuk oleh kerja keras mu sendiri. Angan mu yang masih samar dan aku yang berusaha membuat kesamaran itu menjadi nampak jelas. . Tertutupi oleh gengsi manusia yang menganyam pendidikan di perguruan tinggi malu menjadi petani. Ah aku sudah belajar menjadi petani bahkan sejak masih bayi. Omong kosong.
Jika hanya perihal mengurus tanaman bawang merah, cabai rawit dan kacang-kacangan mungkin aku masih bisa. Ah sudahlah semua bisa dipelajari. Bantu aku ya Bu.
Sukoharjo, 16 Maret
Komentar
Posting Komentar