"Keluarga Hena" Mobil yang Mendiskriminasi Pemotor

  "Keluarga Hena"
   Mobil yang Mendiskriminasi Pemotor


Perjalanan melewati kota Wonogiri di jam pulang kantor saat sore hari memang sedikit menentramkan. Melewati hijaunya sawah, pemandangan waduk Gajah Mungkur dari jembatan samping RM Pak Pon dan indahnya tebing-tebing berawan selepas hujan. Terbebaskan dari hiruk pikuk kota Solo selepas berkegiatan merupakan perjalanan menuju rumah yang melegakan. Ah tapi itu tidak berlangsung lama. Sepanjang jalan suara klakson mobil hitam dibelakang ku terus menganggu. Bagaimana tidak. Awalnya ketika mobil hitam membunyikan klaksonnya pertama kali, ya aku kira memang motor ku ini berada ditengah jalan. Lalu menepilah aku, suara klakson itu masih terdengar. "Mungkin kurang menepi lagi." pikir ku. Setelah lebih menepi dari jalan aspal yang tersedia, mobil hitam itu masih juga membunyikan klaksonnya. "Siapa orang didalam mobil itu, ataukah dia orang yang aku kenal?." Justru aku mempunyai pikiran yang lain kenapa si mobil hitam terus menerus membunyikan klaksonnya. Pikiran ku semakin ada-ada saja. 
Aku terus melaju dengan kecepatan semula, 60 km/jam. Tidak terdengar lagi suara klakson. Aku juga tidak begitu memperdulikan. Jalan Wonogiri yang tidak begitu banyak kendaraan lalu lalang terlihat lancar sekali bagi pengendara roda berapapun untuk saling mendahului. Tapi tidak dengan si mobil hitam. Dia terus dibelakang ku dengan sesekali membunyikan klaksonnya kembali. Ah sial, kalau ini maksudnya aku harus menepi lagi lalu dimana aku harus melewatkan motor bebek ku ini. Aku sudah tidak kebagian sisi jalan. Merasa terintimidasi. 
Karena sedikit kesal, aku memutuskan untuk mengerem motor ku. Tapi bukan rem mendadak lalu berhenti. Tentu bisa ketubruk malahan. Dengan mengurangi kecepatan ternyata si mobil hitam bisa mendahului ku. Terlihat lampu sein kanannya menyala. Mungkinkah dia sedang latihan menyetir, nampak tidak berani mendahului mobil yang lain. Seperti ragu dan takut, mobil itu terus menerus menghidupkan dan mematikan sein kanannya. Sudahlah aku tidak peduli. Yang aku pikirkan kenapa hal semacam mengklaksoni motor sering terjadi. Ya memang benar, kalau mau mendahului diposisi jalan yang tengahnya ada motor pasti si pengendara mobil menyalakan klaksonnya sebagai isyarat untuk si pemotor menepi. Namun jika jalan sangatlah longgar kenapa masih saja menyuruh pemotor untuk minggir. Aku memikirkan hal tidak penting ini sejak lama. Ya karena sering mengalaminya. Mungkin si mobil mau jalan ke tepian, tapikan bisa mendahului lalu jalan didepannya si pemotor. Dalam hak semua sama saja. Dalam hal keselamatan, ya sama saja. Semua harus hati-hati dan saling menghargai pengendara satu dengan yang lain.
Tidak selalu mengklaksoninya, mendahului semaunya tanpa lihat-lihat masih ada jalan atau tidak adalah hal yang membahayakan. Soal mendahului biasanya hal yang bikin deg-degan kalo para pengendara mobil ini saling salip menyalip dan akhirnya mengambil ruas jalan arah berlawanan. Biasanya tipe-tipe pemotor santai percaya saja kalo nanti si mobil juga akan kembali ke jalurnya. Tapi apesnya kalo si mobil ngga kebagian jalan atau bahasa Jawanya ora nyandak. Waladala bukan main tratapannya.

Komentar