Ganti Kerja Rodi di Kepanitiaan Organisasi Jadi Kerja Bakti

Kepanitiaan organisasi berisi berbagai bagian tugas pokok dan fungsi (tupoksi) seperti ketua pantia, sekretaris, bendahara, korlap, humas, konsumsi, pubdok yang dari kesemuanya itu mempunyai kewajiban untuk melakukan tanggung jawab yang sudah diembannya. Berbicara perihal kepanitiaan, kepanitian ini dibuat untuk menyelesaikan sebuah program kerja baik kegiatan maupun acara. Orang-orang yang berada dalam kepanitiaan tersebut dipilih dalam sebuah forum bersama. Dimana semua orang melakukan musyawarah dan mufakat untuk mengemban posisi. Kepanitiaan ini akan mulai sibuk dalam beberapa waktu dimulai dari persiapan, para panitia akan disibukkan dengan rapat dan rapat sepanjang waktu. Hingga tiba pelaksanaan dan akhirnya bertemu dengan evaluasi dan pembubaran panitia. Evaluasi ini berisi penilaian kembali kinerja dan pelaksanan kegiatan dari semua sie atau divisi dari kepanitiaan itu sendiri. 

Pada persiapan ini biasanya memerlukan waktu yang lama. Itu sudah pasti, terlebih jika kegiatan atau acara tersebut merupakan acara yang besar maka dibutuhkan persiapan yang tidaklah sebentar. Untuk membuat sebuah acara bisa berhassil atau bahkan diluar ekspektasi. Semua sie kepanitiaan mulai dikerahkan waktu, tenaga bahkan uang. Semua bagian kepanitiaan tersebut harus rela untuk mencurahkan waktunya saat persiapan ini. Rela tak rela memang sudah kewajiban dan tanggung jawab yang seharusnya memang sudah tertanam dalam pikiran semua kepanitiaan. Menjadi masalah apabila terjadi ketidakikhlasan atau kinerja yang setengah-setengah karena lelah atau merasa tupoksi yang ia dapatkan terlalu berat. Maka akan muncul stereotype lama kepanitiaan organisasi adalah bentuk kerja rodi. Tentu kita semua tahu akan istilah rodi ini, yang menarik stereotype kerja rodi banyak dibahas oleh berbagai artikel karena adanya perasaan yang sama yang dirasakan oleh orang-orang yang terlibat dalam kepanitiaan ini. Dikatakan sebagai kerja rodi karena bekerja terus menerus dan terkadang ada juga yang bekerja dalam keterpaksaan. Selain itu, kepanitian organisasi sering juga disebut sebagi budak progker. Terdengar kasar karena menggunakan kata "budak". Diperbudak atau dipesuruh oleh sebuah program kerja. Stereotype ini muncul karena mulai timbulnya perasaan, pikiran dan tenaga yang sudah mulai lelah untuk dapat menggarap program kerja. Kata sukses pun seolah sulit saat berada di tahap perencaan yang mengalami kendala bertubi-tubi. Rapat lagi rapat lagi dari pagi, siang bahkan malam untuk begadang. Bahkan parahnya jika antar anggota panitia sampai terpecah belah dan tidak mau bekera lagi karena perbedaan pendapat. Akhirnya ada beberapa tupoksi yang harus diemban oleh divisi lain. Yang tersisa adalah mereka yang pasrah. Dengan begitu siapa yang tak mengeluh.

Hal ini terjadi apabila sesorang belum menyadari sepenuhnya akan tanggung jawab yang ada dan memang harus diselesaikan. Orang-orang yang masuk ke kepanitiaan harusnya mengetahui hal ini. Jika ia secara sadar untuk ikut serta dalam kepanitiaan maka segala urusan yang menyangkut kegiatan harus dilakukan. Pada suatu pertemuan yang melibatkan berbagai mahasiswa dari berbagai Universitas di wilayah Jawa Tengah dan DIY, istilah kepanitiaan organisasi seperti kerja rodi ini pernah menjadi bahasan ketika ada seseorang mahasiswa yang bertanya bagaimana menghadapi keanggotaan pengurus yang tidak ikut serta atau tidak aktif dalam kegiatan organisasi. Anggota tersebut hanya sebagai bayang-bayang, ada namun tidak ada kontribusi. Hal semacam ini pasti ada dan dialami oleh setiap organisasi. Hal yang lumrah terjadi namun juga merepotkan. Kenapa tidak, dengan adanya jenis anggota seperti itu akan membuat bingung anggota lainnya. Bagaiaman keterlibatannya dalam kegiatan orgaisasi itu sendiri. Apakah ia bisa terlibat atau tidak. Kehadirannya hanya sebatas bayang dan akhirnya menjadi pelengkap jumlah kepengurusan. Sehingga hal semacam ini menimbulkan permasalahan akan perasaan iri dan merasa terlalu berat karena kurang keanggotaan sehingga stereotype kerja rodi ini semakin berkembang. 

Jika ada anggota yang berfikir hal semacam itu, jika memang mengganggu kinerja dari kesemuanya maka akan lebih baiknya untuk diluruskan. Dalam kepanitiaan semua bertugas sesuai bagian yang sudah diberikan agar satu sie dapat menyelesaikan tugasnya tanpa terganggu oleh tugas sie lan. Analogikan sebagai kerja bakti. Bekerja sama untuk sama-sama mencapai tujuan yang ingin dicapai. Jika mengalami kendala maka antara satu bagian dengan bagian lainnya akan membantu untuk mencari solusi sehingga semua bisa mendapatkan penyelesaian. Bukan kerja rodi, kerja penuh paksaan bahkan siksaan, namun kerja bakti bekerja dengan saling bantu membantu. Pasti perpecahan, kubu, perbedaan pendapat menghiasi dalam organisassi tapi itu semua adalah bagian dari pembelajaran dan pengalaman dalam komunikasi, bagaimana menyelesaikan masalah atau mencari problem solving, manajemen konflik, organisasi adalah hal yang dapat dipetik dikemudian hari.

Libatkan diri mu dalam kegiatan, pasti akan ada hal yang dapat diambil sebagai pembelajaran dan pengalaman yang baik.

Komentar