Pada Tangan Kasar Penggenggam Masa Depan

                    picture by Pinterest 
Brakkkkkkkk... 
Suara lemparan kayu di tungkuan dapur rumah terdengar nyaring sekali malam itu. Wanita paruh baya membawa kayu bakar dari belakang rumah. Ia tata disamping tungku yang sudah menghitam dengan jaringan lama-laba yang mengelung tinggi diatas kepalanya. Nampak lelah dan mengantuk, mata sayu yang sudah tidak kuasa menahan kantuk namun harus tetap terjaga untuk membuat masakan karena pagi harinya ada serombongan pekerja yang akan menuai padi ladangnya. Terlihat otot tangan yang berwarna cokelat karena terbakar terik matahari. Raga yang sudah sangat lelah namun ia sosok yang pantang menyerah. Bekerja di ladang adalah sumber kebahagiaan baginya. Katanya di malam itu, ia bahagia sebagai seorang petani. Ia bangga dan sedikit menyumbangkan diri. Katanya orang-orang diluar sana yang bukan petani harus membeli beras untuk mereka makan. Sementara kita, kita yang menghasilkan beras itu. Menanam dan merawatnya. Menyayangi dan menghindarkan dari penyakit. Ia terus berbangga diri menjadi petani yang berhasil. Senyum mengembang di wajahnya adalah pelipur bagi siapa saja di rumah itu. Anaknya yang sudah dewasa merasa kasian akan perjuangannya. Namun bisa apa, mereka tidak tahu akan bertani semacam apa. Meskipun mereka sering membantu semasa kecil hingga saat menganyam pendidikan sarjana. Namun untuk dapat menguasai dan menjadi terampil seperti wanita paruh baya itu, rasanya butuh waktu yang lama dan butuh ketekunan juga kesenangan dan keikhlasan yang paling dalam. Jika ada orang yang menyukai bekerja di dalam ruangan ber AC, duduk nyaman diatas kursi empuknya. Maka wanita ini menantang kenyamanan itu. Biar menghitam tak apa, tapi ia adalah penghasil makanan pokok yang bagus dan enak tetap menjadi nyaman yang tak terhingga. Namun, namun sekali lagi ia ingin anaknya menjadi sosok yang lebih hebat darinya dan bukan dengan menjadi petani. Sosok wanita itu terkadang membingungkan, ia ingin kehidupan yang anaknya jalani berbeda. Tidak, ia tidak merasa kehidupannya payah saat ini dengan menjadi petani. Tidak pula ia merasa menjadi petani adalah profesi yang dipandang sebelah mata. Jika mampu menjadi petani unggul kenapa harus malu. Akan tetapi anaknya menjadi seorang pegawai juga menjadi impiannya. 

Komentar