Pakdhe Sugi

                       Keluarga Hena
                        "Pakdhe Sugi"

Entah sudah berapa kali genteng ini diperbaiki oleh pakdhe Sugi. Terus menerus bocor saat musim hujan datang. Sampai-sampai keluarga ku berlangganan orang untuk memperbaiki genteng, ya pakdhe Sugi ini. Beliau bekerja dari pagi hingga sore hari, jika selesai sebelum sore tentunya pakdhe Sugi akan segera pulang untuk mencari rumput ke ladang. Siang itu ternyata proses memperbaiki genteng yang bocor lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena sudah dikerjakan dari kemarin, jadi tinggal merampungkan saja sisanya. Maka sudah pasti pakdhe Sugi berpamitan pulang, tapi sebelum itu kakak ku menyajikan makanan hangat untuk beliau santap terlebih dahulu.
                                  ***
Hari ini ibu datang dari warung sayur dekat rumah. Tampak ceria sekali, tertawa tersenyum sesekali.
"Dapet apa nih seneng bener." tanya ku sambil menyendok nasi dari magic com yang sudah tak beraturan bentuknya karena sudah tua bahkan keberadaannya jauh lebih dulu dari keberadaan ku.
"Tadi ibu ketemu budhe Iyem. Dia bilang kalo pakdhe Sugi banyak cerita soal masakan kakak mu." jawab ibu sambil meletakkan sayuran ke meja.
"Cerita apa Bu?." Tanya ku penasaran.
Sambil menirukan gaya bicara budhe Iyem. Ibu cerita penuh dengan penghayatan, sudah persis seperti pemain teater saja.
"Bu, bapaknya Putri semalem cerita ke saya dan anak-anak. Katanya tiap benerin genteng selalu dimasakin masakan enak sama mbak Atna. Belum pernah dia itu makan makanan selezat itu. Tiap cerita seperti nggak ada habisnya. Ada saja yang diceritakan. Kemarin katanya dimasakin mba Atna gulai kepala ikan. Sampai disedot ubun-ubunnya. Kemarinnya lagi katanya dimasakin ayam rica-rica pedas manis sampai jontor bibirnya. Ya saya bilang saja to Bu. Syukur Alhamdulillah lidah bapak sudah tidak pensiun lagi, bisa merasakan makanan enak."
Setelah kalimat itu, kami tertawa bersama-sama. Pakdhe Sugi ini tidak seperti kebanyakan orang, beliau tidak banyak bicara. Siapa sangka ternyata beliau suka sekali menceritakan hal-hal yang sederhana sekali. Seperti masakan yang tiap hari kami nikmati, rasa yang biasa dilidah kami. Komponen yang biasa menjadi menu setiap harinya. Ternyata menjadi makanan lezat bagi pakdhe Sugi, makanan yang belum pernah ia cicipi sebegitu lezatnya. Ah hal-hal seperti ini membuat kami harus bersyukur dengan sangat. Setiap sajian yang tersedia di meja makan yang penuh rahmat harus disyukuri. Kepala ikan yang dibiarkan berhari-hari tidak disentuh karena sudah bosan sepertinya akan berubah haluan. Tidak lagi kami menyia-nyiakan lagi. Mungkin hanya perlu inovasi dalam mengolahnya supaya tidak bosan. Terimakasih makanannya enak. Nanti jika ada rejeki kami hantarkan makanan lezat itu dengan kudapan manis untuk Putri.


Terimakasih sudah menbaca. Cerita pendek ini sudah saya tulis sejak ditanggal dan bulan yang tercantum senyatanya seperti difoto ini. Namun karena faktor kelupaan. Baru hari ini, cerpen Keluarga Hena "Pakdhe Sugi" ada.



Komentar