Setelah Gelar Sarjana Hukum
Saya mengenal seseorang lulusan Sarjana Hukum dari Perguruan Tinggi Negeri yang terkenal di Indonesia, yang namanya tidak saya sebut disini. Bahkan nama Universitas ini hingga kini masih harum dan masuk ke dalam jajaran Universitas terbaik se-Indonesia. Bagaimana saya mengungkapkan kisah ini memang hanya menggunakan bahasa sederhana yang semoga saja mudah dipahami sesuai harapan saya.
Saya banyak mendengar ia berkisah diwaktu senggang. Dulu sekali semasa sekolah kisah-kisah ini mulai ada. Dimulai sejak Sekolah Dasar, ia dikenal murid yang sangat teladan. Pintar disegala akademik dan mampu menorehkan banyak prestasi. Tidak sedikit piagam penghargaan berbagai perlombaan yang ia dapat. Yang saya tahu, piagam-piagam itu masih tersimpan rapi didalam map tebal di lemari coklat tua.
1989, Sekolah Menengah Pertama yang ia tempuh 20 tahun silam adalah sekolah dimana saya juga menempuh pendidikan menengah pertama. Pada tahun 1992 ia masuk SMA favorit disuatu Kabupaten di Jawa Tengah. Jurusan IPA menjadi pilihan dasar ia melukiskan mimpinya 1 tahun kemudian setelah ia masuk SMA. Yang artinya di kelas XI jurusan IPA ini dipilihnya. Karena memang kelas X belum ada penjurusan. Oleh orangtuanya ia merupakan anak yang memang diperuntukkan menjadi manusia yang berpendidikan. Pendidikan adalah hal yang mutlak yang harus dimiliki oleh anak ke 4 dari 6 bersaudara itu. Ditahun yang dinanti untuk melukiskan mimpi itu tiba. Semua orang tentunya mulai lebih gigih lagi dalam belajar. Ia justru tidak. Ujian masuk perguruan tinggi negeri pun tiba. Hari itu, dengan restu orang tua dan saudara ia berangkat dengan percaya diri. Keyakinan bahwa ia memang pantas menjadi mahasiswa di Universitas itu sangatlah besar. 1994. Kala itu ujian masuk perguruan tinggi negeri menggunakan sistem. Pada akhirnya ia memperoleh jurusan itu. Fakultas Hukum. Menjadi seorang Sarjana Hukum baginya tidak hanya menjadi hakim, konsultan dan sebagainya. Pengabdian tidak hanya dengan cara itu. Bagaimana kita bisa menanamkan kejujuran adalah pondasi yang kuat untuk mengabdi.
Empat tahun menganyam pendidikan di bangku kuliah. Memperoleh gelar S.H dengan predikat cumlaude. Namanya terukir di atas benda berbentuk manusia mengenakan toga lengkap dengan nama Universitas itu. Urutan ke tujuh terbaik. Siapa yang tidak bangga. Setelah itu semua berlalu, kini justru ia tidak jadi apa-apa. Di tahun sebelum menginjak 2000, ia mendapat pekerjaan disebuah instansi. Lagi dan lagi, siapa yang tak bangga? Orangtua dan saudara bahkan tetangga membanga-banggakan dirinya. Atas kemulusan masa depan yang ia peroleh. Namun tak berselang lama, ia putuskan untuk keluar. Bukan karena tidak bisa bertukar namun karena idealisnya yang tinggi. Instansi yang penuh dengan penyerangan dan hal-hal buruk lainnya. Semua maunya menang, siapa yang berkuasa adalah ia yang bisa mengendalikan. Mantap, ia keluar dari badan itu. Ia yakin akan mendapat tempat yang layak dilain waktu.
Komentar
Posting Komentar