Menyambangi Sleman
Mengunjungi salah satu tempat yang berada di Jogja di tanggal tua bulan Agustus tahun ini. Kala itu berangkat dengan seorang kawan dari Sukoharjo. Hari rabu, selepas maghrib kami berangkat. Kami bertujuan menyambangi kawan-kawan di Sleman. Entah itu kawan baru yang akan kami kenal saat disana, atau kawan lama yang sudah kawan ku ini kenal sejak dulu. Sepanjang perjalanan aku tidak begitu memikirkan hal lain karena disepanjang jalan kami selalu mengobrol. Lalu terbesitlah sebuah pertanyaan bagaimana aku bisa berkenalan dengan orang baru lalu membicarakan banyak hal disana. Terlebih bagi ku yang belum banyak mempunyai kawan diberbagai tempat. Mungkin saja hal ini akan menjadi pengalaman baru yang menyenangkan. Dengan berbekal aplikasi Google Maps, kami mencari alamat pertama yang ingin kami kunjungi. Ternyata memakan waktu yang lama. Hal ini karena kami belum tau persis jalan menuju tempat yang akan kami tuju sehingga seringkali kami salah mengambil jalan. Ditambah kawan ku yang tidak membawa masker, ia harus membeli terlebih dahulu. Yaa mematuhi protokol kesehatan dimassa pandemi. Akhirnya kami sampai di tujuan pertama, sebuah kafe yang juga merupakan toko buku. Tempat yang asik dan tenang dengan desain kafe yang begitu menarik. Banyak buku bacaan yang bisa dipinjam dan dibaca ditempat. Ada juga buku-buku baru yang dijual dengan bermacam jenis.
Dimana tempat memesan kopi? Tanya ku pada diri ku sendiri. Ternyata diseberang meja tempat ku duduk saat itu. Tidak banyak orang disana. Semua orang terlihat sibuk melakukan aktivitas masing-masing. Dimeja yang tidak jauh dari meja ku, seorang lelaki tampak asik dengan bukunya. Membawa tas gendong, dan tumpukan buku dimeja sembari menyeruput kopi panasnya. Kawan ku menghampiri lelaki itu, hal pertama yang dilakukan pastinya adalah berkenalan. Ia memperkenalkan dirinya dan disambut perkenalan dari lelaki itu juga. Gagu, harusnya disituasi semacam itu aku bisa saja langsung memperkenalkan diri. Tapi tidak, aku justru langsung duduk tanpa dipersilahkan. Tidak sopan. Ya aku masih sangat bingung bagaimana dalam bersikap di situasi baru setelah sekian lama aku selalu berada ditempat yang aku rasa aman dan nyaman. Rumah. Aku tidak banyak melakukan pertemuan dengan orang lain, baik itu teman atau siapapun. Banyak waktu yang aku habiskan dikamar dengan keasikan yang aku buat sendiri. Lalu setelah sekian lama itu, apakah benar jika aku mengalami kegagagapan dalam berinteraksi dengan orang lain. Mungkin saja iya. Aku begitu sulit beradaptasi kala itu. Setelah berbincang-bincang ternyata lelaki itu adalah pemilik kafe yang aku dan kawan ku kunjungi. Dimalam itu tanpa diduga aku bisa bertemu dengan pemilik kafe secara langsung. Aku masih banyak diam, hingga dia mulai membuka obrolan dengan menanyakan nama ku. Setelahnya kami sedikit mengobrol tentang beberapa hal. Menanyakan kampus, jurusan kuliah bahkan mata kuliah di jurusan ku. Ada pertanyaan yang membuat ku mengingat-ingat akan suatu istilah. Semacam adegan Spongebob yang didalam otaknya, ia membuka berkas-berkas yang ada namun tidak juga menemukan yang ia cari. Hanya sedikit yang aku ingat. Si pemilik kafe ini banyak tahu akan berbagai hal, bahkan yang sebenarnya bukan basicnya dia, dia tahu. Sudah berapa lama manusia ini membaca buku? Sudah berapa buku yang ia baca hingga saat ini?. Aku nampak kosong didepannya, kalah telak. Memalukan. Aku harus belajar lagi. Nanti kalau sudah banyak belajar, kembali lagi barangkali.
Setelah kami berbincang-bincang cukup lama, datang beberapa orang ke kafe. Ia menghampiri si pemilik tadi, kami berkenalan juga dengan pendatang tadi. Satu nama yang selalu aku ingat. Seperti lagu lama yang berjudul nama seseorang. Mudah diingat. Widuri.
Tidak lama aku dan kawan ku pamit untuk berpindah meja meninggalkan pemilik kafe dan kawannya si pendatang tadi. Kami mencari-cari buku yang akan kami beli. Banyak sekali pilihan buku disana. Sayang buku yang aku inginkan sudah habis terjual. Sebenarnya aku membutuhkan banyak waktu untuk memlilih-milih buku. Banyak buku yang sebelumnya tidak aku ketahui. Berbagai judul dan tampilan cover yang menarik mungkin bisa jadi cara ku dalam menentukan buku mana yang akan aku beli. Kawan ku menyarankan banyak buku yang berasal dari seorang penulis yang selalu ia bicarakan sejak awal. Semenarik apa buku karya manusia yang terdengar hebat itu. Akhirnya aku membeli hanya satu buku. Bagaimana buku itu bisa menarik bagi kawan ku, mungkin aku akan mengetahuinya setelah membaca buku tersebut. Kami kembali ke meja, terlihat ada makhluk yang tak asing tidur di tas gendong ku. Salah satu kucing kafe berwarna abu tua kehitaman.
Karena aku ingin mengambil barang didalam tas, tentunya kucing yang sedang asik bermimpi diatas tas ku, aku turunkan. Malam itu aku dan kawan ku banyak membicarakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kami bicarakan. Bagaiamana sudut pandang masing-masing dari kami tentang satu sama lain. Salah satu bahasan yang sebelumnya pernah kami bahas dengan singkat dipesan Whatsapp, bagaimana kita dalam ber-Tuhan. Malam yang begitu panjang ia bercerita tentang orang-orang hebat didalam sebuah buku, karya hebat, tulisan dan keluhan. Akan banyak sekali yang bisa diceritakan pada kunjungan ke Sleman. Dilain waktu akan aku ceritakan lagi.
*bersambung*
Komentar
Posting Komentar